MAKALAH PKL
MAKALAH
RISET SDM
PENINGKATAN
PEREKONOMIAN PARA PEDAGANG KAKI LIMA
DIKAWASAN
JL. BOROBUDUR MALANG
Kelompok 7 :
1.
Susiyana 14101352
2.
Devi
Marta Dwi Lestari 14101319
3.
Irgi
riswandha widodo 14101377
4.
Ika Bunga Analia 14101369
SEKOLAH TINGGI ILMU
EKONOMI ASIA MALANG
JL.BOROBUDUR
NO. 21 MALANG 65125
TELP.0341-478494
2017
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Perekonomian Indonesia yang semakin
berkembang di sertai dengan tingkat konsumsi masyarakat terhadap barang dan
jasa yang semakin meningkat,di mana pasar sangat menentukan terpenuhinya
kebutuhan primer maupun skunder, karena hal itulah para Produsen berlomba-lomba
untuk menyediakan Barang atau Jasa yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Seiring
dengan kebutuhan yang semakin meningkat menyebabkan banyak masyarakat berusaha
membuka usaha guna memperoleh keuntungan yang besar tapi dengan pengeluaran
yang sekecil mungkin, hal inilah yang meprakasai meningkatnya Pedagang Kaki
Lima (PKL) di jln. Borobudur, Malang.
Terkadang kemunculan PKL juga membawa dampak positif
sebagai contoh mempermudah akses pasar bagi konsumen, barang yang di jual lebih
murah, dan tidak jauh dari jalan, tetapi dampak yang di timbulkan juga sangat
besar sebagai contoh kemacetan jalan raya di mana dapat mengganggu aktifitas
kegiatan yang menggunakan jalan raya, sampah yang menumpuk, polusi udara, dan
masih banyak lagi. Tetapi di daerah jl. Borobudur ini pedagang kaki lima (PKL)
sudah mendapatkan izin dari pemkot Malang, dan tempat mereka berjualan tidak
mengganggu lalu lintas disekitar tempat mereka berjualan.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah
diuraikan sebelumnya, maka penulis mengidentifikasi permasalahan sebagai
berikut:
1. Apa
alasan bapak mendirikan PKL tersebut?
2. Berapa
penghasilan yang diperoleh pedagang tersebut dengan adanya pekerjaan pedagang
kaki lima?
3. Dari
mana modal yang didapatkan untuk mendirikan PKL?
4. Bagaimana
awal bapak/ibu bisa berdagang kaki lima?
5. Apa
saja kendala yang diadapi pedagang kaki lima ini?
6. Bagaimana
solusi dari kendala tersebut?
C. Tujuan
Penelitian
Sesuai dengan permasalahan tersebut,
maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui apa
alasan pedagang mendirikan PKL tersebut.
2.
Untuk mengetahui
tingkat pendapatan pedagang semenjak menjadi pedagang kaki lima.
3.
Untuk mengetahui dari
mana mereka mendapatkan modal utama.
4.
Untuk mengetahui asal
mula pedagang mendirikan PKL tersebut.
5.
Guna mengetahui
permasalah yang sedang dialami pedagang kaki lima.
6.
Guna mengetahui solusi
dari permasalah terseb
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Pengertian
Riset Sumber Daya Manusia
Secara umum riset dijalankan dengan tujuan
menghasilkan informasi, informasi ini dibutuhkan untuk para
manajer,pengertian/defenisi riset SDM adalah semua kegiatan yang melibatkan
proses perencanaan, pengumpulan, penganalisaan, dan pelaporan informasi, dengan
tujuan memperbaiki pembuatan keputusan yang berkaitan dengan pengidentifikasian,
pemecahan masalah dan penentuan peluang dalam SDM.
ada beberapa point utama yang termuat dalam pengertian riset SDM, yaitu
ada beberapa point utama yang termuat dalam pengertian riset SDM, yaitu
1.
terdiri atas bebrapa tahap,
merupakan suatu proses
2.
hasil akhir berupa informasi,
3.
ditujukan untk membantu pengambilan
keputusan manejemen SDM
Riset SDM diharapkan memberikan informasi berkualitas
sebagai kompas atau alat bantu pengambilan keputusan. informasi dikatakan
berkualitas jika memenuhi kriteria relevan, akurat, realibel, valid dan aktual
yang berguna bagi manajemen.
·
Relevan berarti informasi yang
disediakan berhubungan dengan masalah riset SDM.
·
Akurat menunjukkan tingkat ketepatan
informasi yang diberikan
·
Realibel berarti informasi tersebut
dapat dipercaya kebenarannya
·
Valid menunjukkan informasi tersebut
memiliki kekonsistenan.
·
aktual artinya informasi masih baru
atau tidak ketinggalan zaman, sehingga masih sesuai dengan konteks waktu saat
keputusan akan dibuat.
Tahap-Tahap Riset SDM
Untuk menyediakan informasi yang realibel, Riset SDM
menggunakan metode yang sistematis dan objektif artinya dalam Riset SDM
diterapkan beberapa tahap yang merupakan kesatuan logis, sehingga hasilnya
dapat diterima oleh semua pihak secara objektif. Penggunaan tahap-tahap dalam
riset SDM diperlukan untuk menjamin informasi
yang dihasilkan benar-benar berkualifikasi, akan
tetapi tahap-tahap riset SDM tidak berisfat baku, adapun tahap-tahap riset SDM
adalah sebagai berikut :
·
penentuan masalah riset
·
penentuan desain riset
·
metode pengumpulan data
·
metode pengambilan sampel
·
penulisan dan penyampaian proposal
riset
·
pengumpulan data
·
pengeditan, pengkodean, tabulasi,
dan pemrosesan data
·
analisis dan penginterpretasian
hasil riset
·
penulisan dan penyampaian laporan
akhir
Ada enam langkah dalam proses riset
sdm :
1.
Menentukan tujuan penelitian dan rumusan
masalah
2.
Menentukan pendekatan penelitian
3.
Memformulasikan desain riset
4.
Pengumpulan data (Fieldwork)
5.
Menyiapkan dan menganalisis data
6.
Mempersiapkan laporan penelitian
B. Pengertian
PKL
Pedagang
kaki lima (PKL) adalah mereka yang melakukan kegiatan usaha dagangan perorangan
atau kelompok yang dalam menjalankan usahanya menggunakan tempat – tempat fasilitas umum, seperti terotoar, pinggir –
pinggir jalan umum, dan lain sebagainya.
Secara
umum pedagang kaki lima ( sektor informal ) adalah mereka yang melakukan
kegiatan usaha dagang perorangan atau kelompok yang dalam menajalankan usahanya
menggunakan tempat – tempat fasilitas umum, terotoar, pinggir – pinggir jalan
umum, dan lain sebagainya. Pedagang yang menjalankan usahanya jangka waktu
tertentu dengan menggunakan sarana atau perlengkapan yang mudah dipindahkan,
dibongkar pasang, dan mempergunakan lahan fasilitas umum sebagai tempat usaha
seperti kegiatan pedagang – pedagang kaki lima.
Kegiatan
perdagangan dapat menciptakan kesempatan kerja melalui dua cara. Pertama,
secara langsung, yaitu dengan kapasitas penyerapan tenaga kerja yang benar.
Kedua, secara tidak langsung, yaitu dengan perluasan pasar yang diciptakan oleh
kegiatan perdagangan disatu pihak dan lain dengan memperlancar penyaluran dan
pengadaan bahan baku (Kurniadidan Tangkilisan, 2002:21 )
C. Ciri
– ciri / kriteria Pedagang Kaki Lima (PKL)
·
Merupakan pedagang yang
kadang – kadang juga sekaligus produsen.
·
Ada yang menetap
dilokasi tertentu, ada yang bergerak dari satu tempat ketempat yang lain (
menggunakan pikulan, kereta dorong, tempat atau stan yang tidak permanen serta
bongkar pasang ).
·
Menjajakan bahan
makanan, minuman, barang – barang konsumsi lainnya yang tahan lama se.cara
eceran.
·
Umumnya bermodal kecil,
kadang hanya merupakan alat bagi pemilik modal dengan mendapatkan sekedar
komisi sebagai imbalan atas jerih payahnya.
·
Kualitas barang –
barang yang diperdagangkan relati rendah dan biasanya tidak berstandar.
D. Profil
Pedagang Kaki Lima (PKL)
·
Bapak Dani : penjual es doger
·
Bapak Puji : penjual rujak manis
·
Bapak Rokani : penjual es kelapa muda
·
Bapak Pani : penjual batagor
·
Bapak Bima : penjual makanan
·
Ibu sri : penjual nasi pecel madiun
E. Awal
mula adanya Pedagang Kaki Lima (PKL)
a.
Adanya krisis ekonomi yang
melanda Indonesia berdampak pada banyak perusahaan tidak beroperasi lagi
seperti sedia kala oleh karena ketidakmampuan perusahaan menutupi biaya
operasionalnya sehingga timbul kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK). Hal
ini juga memberi kontribusi terhadap peningkatan jumlah pengangguran yang
umumnya bermukim di wilayah perkotaan. Demi mempertahankan hidup,
orang-orang yang tidak tertampung dalam sektor formal maupun yang terkena
dampak PHK tersebut kemudian masuk ke dalam sektor salah satunya adalah menjadi
pedagang Kaki Lima .
b.
Perencanaan ruang tata
kota yang hanya terfokus pada ruang-ruang formal saja yang menampung kegiatan
formal. Seiring dengan berjalannya waktu, keberadaan ruang-ruang fomal kota
tersebut mendorong munculnya kegiatan informal kota salah satunya di sektor
perdagangan, yaitu Pedagang Kaki Lima (PKL) sebagai kegiatan pendukung
(activity support).
c. Pertumbuhan
penduduk kota yang sangat cepat di Indonesia lebih banyak disebabkan adanya
arus urbanisasi dan pembengkakan kota. Keadaan semacam ini menyebabkan
kebutuhan lapangan kerja di perkotaan semakin tinggi. Seiring dengan hal
tersebut, ternyata sektor formal tidak mampu menyerap seluruh pertambahan
angkatan kerja. Akibatnya terjadi kelebihan tenaga kerja yang tidak
tertampung, mengalir dan mempercepat tumbuhnya sektor informal. Salah satu
bentuk perdagangan informal yang penting adalah Pedagang Kaki Lima.
F.
Penghasilan Pedangan
Kaki Lima (PKL)
Menurut
hasil wawancara dari beberapa pedagang kaki lima yang berdagang di jln.
Borobudur yaitu penghasilan meraka setiap harinya dimulai berdagang dari jam
07.00 – 12.000 rata – rata menghasilkan
900.000 dalam setengah hari. Penghasilan ini merupakan penghasilan utama bagi
mereka, dan usaha dagang tersebut adalah pekerjaan utama bagi pedangang di jln
Borobudur.
G. Alasan
Pedagang Kaki lima Mendirikan Usaha Tersebut
Berdasarkan
dari hasil wawancara dengan pedagang kaki lima disekitar jl. Borobudur, alasan
mereka mendirikan usaha yang sedang mereka geluti tersebut adalah karena tidak
ada pekerjaan lain yang mereka miliki, selain itu hanya keterampilan berdagang
yang hanya mereka bisa. Mereka juga mendirikan usaha tersebut karena usaha
turun temurun dari orang tua mereka, yang mereka lanjutkan karena mereka tidak
memiliki pendidikan tinggi yang dapat mereka gunakan untuk melamar pekerjaaan.
Mereka juga mendirikan usaha tersebut karena mereka melihat peluang yang ada
disekitar mereka, sehingga dagangan mereka dapat laku diminati oleh konsumen.
H. Modal
Utama Pedagang Kaki Lima
Menurut
hasil wawancara dengan beberapa pedagang kaki lima disekitar jl. Borobudur,
modal yang mereka gunakan pertama untuk mendirikan usaha tersebut bermacam –
macam, ada yang mendapatkan modal dari pinjam di Bank. Kerena mereka tidak
memiliki penghasilan sebelumnya yang dapat mereka gunakan untuk mendirikan
usaha yang mereka geluti. Selain itu mereka juga mendapatkan modal usaha dari
join antar teman yang mereka gunakan untuk mendirikan usaha dagang yang
hasilnya mereka bagi menjadi dua. Menurut pedang yang meminjam dibank mereka
sudah dapat melunasi hutangnya dari hasil berjualan setiap harinya. Pedagang
tersebut juga ada yang mendirikan usanya dari hasil modal sendiri.
I.
Dampak Positife
Pedagang Kaki Lima
Ditinjau dari sisi
positifnya, sektor informal Pedagang Kaki Lima (PKL) merupakan sabuk penyelamat
yang menampung kelebihan tenaga kerja yang tidak tertampung dalam sektor formal
(Usman, 2006:50), sehingga dapat mengurangi angka pengangguran. Kehadiran PKL
di ruang kota juga dapat meningkatkan vitalitas bagi kawasan yang ditempatinya
serta berperan sebagai penghubung kegiatan antara fungsi pelayanan kota
yang satu dengan yang lainnya. Selain itu, PKL juga memberikan pelayanan kepada
masyarakat yang beraktivitas di sekitar lokasi PKL, sehingga mereka mendapat
pelayanan yang mudah dan cepat untuk mendapatkan barang yang mereka butuhkan. Selain
itu juga dapat mengurangi pengangguran dikota tersebut sehingga dapat
meningkatkan ekonomi para pedagang tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari –
sehari mereka.
J.
Kendala yang Dihadapi
Adapun
kendala yang dihadapi oleh para pedagang kaki lima tidaklah rumit karena dari
pemkot Malang sendiri maupun dari yang
memiliki lahan unutuk ditempati berjualan sudah memberikan izin. Kendala dari
pedagang kaki lima ini sendiri yaitu persaingan antar pedagang yang lain yang
memiliki jenis dagangan yang sama baik itu pedagang makanan maupun pedagang
minuman.
K. Solusi
Mengatasi Kendala
Untuk
mengatasi kendala yang dihadapi oleh para pedagang di jl. Borobudur, maka
solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasinya
yaitu mereka perlu melakukan inovasi terhadap dagangan mereka, meskipun
dagangan mereka memiliki jenis yang sama mereka mereka harus memiliki
keunggulan sendiri dari produk yang mereka jual. Dengan mereka melakukan inovasi
produk yang mereka jual maka tidak akan terjadi persaingan antar pedagang yang
ada disekitar jl. Borobudur.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis
Penelitian
Jenis
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif
kualitatif yaitu penelitian yang dilakukan dengan menggunakan riset yang
mempunyai sifat deskriptif dan lebih cenderung menggunakan analisis. Proses serta makna lebih cenderung
didalam penelitian kualitatif, landasan dari sebuah teori dimanfaatkan untuk
pemandu agar fokus dari penelitian sesuai dengan fakta yang ada di lapangan.
B. Teknik
Sampel
Teknik
sampel yang digunakan adalah teknik non probability sampling yaitu teknik
purposiv sampling. Purposive
sampling adalah pengambilan sampel secara sengaja sesuai dengan persyaratan
sampel yang diperlukan. Dalam bahasa sederhana purposive sampling itu dapat
dikatakan sebagai secara sengaja mengambil sampel tertentu (jika orang maka
berarti orang-orang tertentu) sesuai persyaratan (sifat-sifat, karakteristik,
ciri, kriteria) sampel (jangan lupa yang mencerminkan populasinya).
Alasan digunakannya teknik ini adalah karena peneliti ingin mengetahui dampak
yang dirasakan pedagang kaki lima dari usaha yang mereka dirikan ini khususnya
dalam hal perekonomian. Populasi dalam penelitian ini adalah para pedagang kaki
lima yang berada di jl. Borobudur. Untuk sample peneliti memilih 6 orang
pedagang makanan dan minuman. Sample tersebut dipilih agar peneliti dapat
mengetahui dampak dari mereka mendirikan usaha (PKL) yang mereka geluti saat
ini, atau usa.
C. Teknik
Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian
yaitu dengan teknik survey langsung ke lapangan yaitu
di jl. Borobudur serta teknik interview (wawancara) yaitu tanya jawab tentang
pengaruh adanya usaha yang saat ini didirikannya, untuk mengumpulkan data
kualitatif tentang dampak pedagang kaki lima terhadap perekonomian pedagang itu
sendiri.
Peneliti juga
menggunakan teknik dokumentasi
berupa video dengan durasi singkat mengenai proses wawancara dan sejumlah formasi.
D. Sumber
Data
·
Data Primer
Data primer merupakan sumber data yang diperoleh
secara langsung dari sumber utama selama
melakukan kunjungan ketempat perkumpulan pedangang kaki lima di jl. borobudur yaitu melalu wawancara langsung.
·
Data Sekunder
Data sekunder merupakan
sumber-sumber data informasi yang dikumpulkan untuk menjadi dasar kesimpulan
dari sebuah penelitian.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan
pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa mendirikan usaha menjadi
pedagang kaki lima sangat bermanfaat bagi pedagang tersebut untuk meningkatkan
perekonomian pedagang dan juga dapat menjadi peluang lapangan pekerjaan bagi
yang tidak memiliki pekerjaan. Terlebih bagi orang yang tidak memiliki
keterampilan atau tidak memiliki pendidikan tinggi mereka dapat mendirikan
usaha jualan seperti pedagang kaki lima yang modalnya hanya sedikit dan juga
tidak memerlukan membangun tempat untuk berjualan, mereka juga bisa berjualan
berkeliling. Selain itu pedagang kaki lima ini juga dapat memberikan manfaat
bagi para konsumen yang dekat dengan tempat mereka berjualan untuk lebih muda
mendapatkan makanan dan minuman begitu juga dengan pedagang kaki lima yang
berkeliling.
B. Saran
Dari
hasil riset penelitian yang kami
lakukan ,sebaiknya
pemerintah daerah lebih memperhatikan pedagang kaki lima, khususnya pedagang
kaki lima di kawasan jalan Borobudur kota Malang. Dengan membangun dan
memberikan rest area atau tempat khusus bagi pedangan kaki lima agar dapat
tertata lebih rapi, serta agar tidak terjadi persaingan antar pedagang kaki
lima lainnya. Sehingga dapat membantu peningkatan
penjualan para pedagang kaki lima, yang dapat meningkatkan perekonomiannya.
LAMPIRAN
![]() |



Komentar
Posting Komentar